UKM Minta Swalayan Bantu Pemasaran

Rabu, 03 Februari 2016 10:21:07 1138
UKM Minta Swalayan Bantu Pemasaran
Rombongan DPD RI didamping Camat Payung Sekaki, Zarman Candra berfoto bersama di depan gerai ibu-ibu kreatif Kelurahan Tampan, Kecamatan Payung Sekaki.

Payung Sekaki, Inforiau -  Pengurus Asosiasi Pangan Riau (Aspari) Mahlil mengatakan, masalah yang sering dihadapi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah adalah jaminan untuk dapat mengakses modal yang tersedia.

 

Lembaga keuangan  sendiri mensyarakatkan kredit harus jaminan bersertifikat. Dan pengusaha kecil sangat kesulitan memenuhinya.

 

Selain itu, ada juga masalah dalam pemasaran. Tumbuhnya retail dan swalayan tidak diiringi dengan mudahnya pengusaha menjual produknya. 

 

“Alfamart dan Indomart, misalnya. Produk kita kesulitan untuk masuk ke dalamnya. SOP mereka sangat ketat, karena harus berurusan dengan pusatnya. Pembayaran konsinyasi dengan tempo yang disyaratkan mereka juga memberatkan pengusaha kecil. Belum lagi soal kemasan yang harus memakai nama mereka,” kata Mahlil.

 

Hal itu disampaikannya kepada rombongan Komite IV DPD RI yang berkunjung ke sentra-sentra UKM di Provinsi Riau hari ini  di Pasar Oleh-oleh Pekanbaru, Gerai Ibu-Ibu kreatif Kelurahan Tampan Payung Sekaki dan Gerai Al Mahdi Kampung Melayu Sukajadi.

 

Abdul Gafar Usman, anggota DPD RI Provinsi Riau kepad inforiau, Selasa (2/2), mengatakan bahwa permasalahan UKM memang tidak ada habisnya. Namun jika semua pihak mau benar-benar serius mengurusi, akan ketemu jalannya.

 

“Saya adalah pelaku UKM. UKM saya, saya namakan Umega. Usaha Menambah Gaji. Karena gaji tidak cukup, makanya saya berusaha. Tapi yang perlu dicatat, tidak ada kata ‘akan’ dalam kamus saya. Kalau mau usaha, langsung lakukan. Kekurangan modal, pemasaran dan peralatan packing akan segera kita selesaikan. Ini saya bawa juga Kepala Dinas Koperasi Provinsi Riau” ujar  Gafar di hadapan pelaku UKM.

 

Adapun Wakil Ketua Komite IV DPD RI, Budiono mengatakan bahwa Komite IV Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia ingin melihat secara langsung sejauh mana pelaksanaan atas Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM di Provinsi Riau.

 

Dimana dalam implementasi undang-undang tersebut, ada beberapa kendala dalam pemberdayaan UMKM. Misalnya, masih adanya kesulitan UMKM memperoleh legalitas badan hukum dan mahalnya pengurusan legalitas usaha.

 

Kemudian, UMKM mengalami kesulitan dalam mengakses permodalan dan akses pembiayaan dari perbankan maupun lembaga keuangan bukan bank. Dan tata kelola usaha dan jangkauan pemasaran yang masih sangat terbatas.

Selain itu, juga masih belum terlindunginya UMKM dari ekspansi korporasi besar. Seperti masuknya minimarket yang secara langsung mengancam keberadaan usaha mikro dan kecil, masih banyaknya SDM UMKM yang kurang berkualitas sehingga secara otomatis mempengaruhi nilai tambah produk tata kelola usaha dan pemasaran yang kurang maksimal,

dan pemerintah masih kurang melindungi keberlangsungan UMKM.

 

“Dari sekian banyak aspek yang menjadi pengaturan dari UU Nomor 20 tahun 2008, yang paling banyak memperoleh perhatian publik adalah aspek pembiayaan dan penjaminan yang seringkali juga disebut dengan akses pembiayaan bagi UMKM,” katanya.

 

Karena itu, pihaknya memandang penting untuk melihat secara langsung mengenai pelayanan, pembinaan, dan pengembangan UMKM ini dari sisi pembiayaan. “Aspek ini dipandang penting, karena dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah telah menetapkan dan menjalankan kebijakan pembiayaan bagi UMKM melalui skema Kredit Usaha Rakyat atau KUR yang dimaksudkan agar kesulitan pemenuhan modal bagi UMKM dapat diminimalisir,” kata Budiono.KIM

 

KOMENTAR