83 Siswa SMAN 6 Pekanbaru Ditipu Guru BK

Rabu, 11 April 2018 13:31:59 8111
83 Siswa SMAN 6 Pekanbaru Ditipu Guru BK

PEKANBARU, INFORIAU.co - Sebanyak 83 siswa-siswi kelas 12 SMAN 6 Pekanbaru pupus sudah harapan mereka untuk bisa melanjutkan pendidikannya ke salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Pekanbaru.

Hal ini mereka rasakan karena guru yang mereka percaya untuk bisa mendaftarkan mereka ke perguruan tinggi negeri tidak bekerja dengan baik.

Karena pendaftaran yang melalui jalur PBUD ( Penelusuran Bibit Unggul Daerah) sudah resmi di tutup pada tanggal 31 Maret lalu.

Setiap siswa yang ingin mendaftarkan dirinya ke perguruan tinggi tersebut diwajibkan untuk membayar uang pendaftaran sebesar Rp. 200.000 dan di berikan kepada guru yang bertanggung jawab.

Alih-alih ingin mendaftarkan para siswa, guru yang biasa di panggil muridnya dengan panggilan Buk Lis ini di duga malah ingin melarikan uang pendaftaran yang sudah di setorkan kepadanya.

Dugaan ini muncul karena murid yang mendaftar tidak diberikan kwitansi atau tanda bukti penerimaan uang untuk pendaftaran tersebut.

Karena merasa dipermainkan oleh Guru tersebut, para siswa melaporkan kejadian tersebut ke orangtuanya.

Mendengar keluhan kekecewaan dari anaknya, puluhan siswa dan orang tua pun mendatangi sekolah tersebut untuk meminta kejelasan langsung kepada Kepala Sekolah terkait gagalnya anak mereka mendaftar ke Perguruan Tinggi Negeri yang sudah menjadi incaran anaknya sejak lama.

Saat ditemui oleh Inforiau seusai berdiskusi dengan kepala sekolah, salah satu orang tua siswi yang tidak mau disebutkan namanya itu menuturkan bahwa guru tersebut harus dihukum karena kesalahan yang dilakukannya sudah sangat fatal.

"Selain hukuman akademis kami juga mau hukuman moral karena yang dirugikan sangat banyak, Kalau anak kami bisa mendaftar di UNRI kami tidak masalah, karena ini tidak berhasil kami meminta uang yang sudah diserahkan oleh anak kami di kembalikan," tegasnya, Selasa (10/04).

Lebih lanjut, wanita yang diperkirakan berusia 40-an tahun ini menilai guru tersebut tidak memiliki etika dan moral karena setiap ditanya data atau bukti bahwa anaknya sudah di daftarkan, guru tersebut selalu memberikan alasan yang membuat naik darah.

"Saya lupa hari dan tanggal kapan saya nanya ke guru itu, setiap kali saya tanya data atau bukti pendaftaran jawabnya ada dirumah dan saya bilang besok tolong dibawa. Tetapi dia bilang dicek dulu, kalau memang ada dirumah kenapa harus dicek dulu," ungkapnya sambil mengusap air mata.

Bahkan guru yang diketahui sebagai guru BK (Bimbingan Konseling) ini saat berjalan keluar ruangan harus merelakan dirinya dicaci maki oleh para orang tua yang kecewa akibat kelakukannya.

Salah seorang siswi yang ditemui di luar sekolah tersebut mengakui seperti dipaksa oleh guru tersebut untuk mendaftarkan mereka ke Universitas tersebut. Dan karena memang biaya pendaftaran sebesar Rp.200.000, siswi tersebut memberikannya kepada guru tersebut.

"Sebenarnya mendaftar sendiri, tetapi Buk Lis memaksa murid untuk mendaftar melaluinya (red-guru) dan waktu daftar langsung kasih duit pendaftaran Rp.200.000," kata siswi tersebut.

Sambungnya lagi, disaat ingin menanyakan perkembangan pendaftaran yang melalui jalur PUBD tersebut, ia dan teman-temannya justru mendapatkan cacian dari guru tersebut.

"Waktu nanya soal pendaftaran, Buk Lis malah ngomong dengan keras kalau saya tidak percaya dengan Buk Lis. Karena hati sudah dongkol terpaksa kami (red-siswi) lapor ke orang tua".

Karena sudah dipastikan gagal karena tidak bisa masuk ke Universitas Negeri tersebut, siswa berambut panjang ini terlihat menangis dan mengungkapkan perasaannya.

"Sekarang kecewa karena tidak bisa masuk Universitas Negeri, Universitas Swasta mahal kasihan orang tua. kecewa juga dengan Buk Lis karena tidak seharusnya Guru BK memberikan contoh buruk ke siswanya," ungkapnya sambil terisak-isak.

Orang tua yang ikut mendampingi anaknya ketika diwawancarai ini juga turut menyalahkan Kepala Sekolah SMAN 6 karena tidak bisa memantau guru tersebut.

"Kepala Sekolah nya juga salah, kenapa hal sebesar ini di biarkan. Kalau pengakuan Kepala Sekolah sudah di tanyakan ke Buk Lis bisa saja dia berbohong. Terbukti kan kalau Buk Lis itu berbohong, seharusnya Kepala Sekolah itu meminta data atau buktinya dengan Buk Lis," ucapnya dengan nada tinggi

Namun sayang, disaat setelah mengadakan pertemuan dengan para wali murid. Kepala Sekolah yang bernama Zurina ini tidak mau berkomentar. (her)

KOMENTAR