Akhlak Rasulullah dalam Bermuamalah

Senin, 19 November 2018 19:12:03
Akhlak Rasulullah dalam Bermuamalah
ilustrasi - Sikap seorang mukmin suka tolong menolong dalam kebaikan

Oleh Oky Suryana

Kita teringat sebuah kata-kata mutiara dari Imam syafi’i berkaitan dengan nasihat,

“Nasihatilah diriku di kala aku sendiri
Jangan kau nasihati aku di tengah keramaian
Karena nasihat di muka umum adalah
bagian dari penghinaan yang tak suka aku mendengarnya
Jika engkau enggan dan tetap melanggar kata-kataku
Maka jangan menyesal jika aku enggan menurutimu.”

AGAMA islam adalah nasihat, yakni nasihat yang berkaitan mengenai kebenaran dan kesabaran. Nasihat mengenai ketakwaan. Nasihat mengenai amar ma’ruf nahi mungkar. Nasihat laksana telaga yang diminum airnya ditengah kehausan dalam pengembaraan. Nasihat adalah sedekah laksana senyuman dan laksana perkataan yang baik. Oleh karenanya nasihat itu akan bermanfaat. Nasihat adalah amal shalih namun letakkanlah nasihat itu pada tempatnya dan situasinya agar ia menyentuh hati.

Nasihat tidak selamanya berupa perkataan namun perilaku yang baik juga merupakan nasihat atau pelajaran yang berharga.

Dagang adalah satu diantara tegaknya agama dan dunia.

Nasr bin Yahya berkata, Telah sampai kepada kami sebagian nasihat para ahli ilmu, “Tak akan tegak agama dan dunia, kecuali dengan empat perkara : ulama, umara (pemimpin), prajurit, dan pengusaha (Dagang).”

Sebagai seorang pedagang perlu adanya ilmu agar ia terjaga dari sikap yang tidak baik atau curang, saling merugikan dan tenggelam dalam lautan riba.

“Seorang pedagang jika tidak faham fikih akan tenggelam dalam riba, tenggelam dan makin terbenam.” (Ali bin Abi Thalib)

“Barangsiapa yang belum belajar agama, jangan berdagang di pasar kami !.” (Umar bin Khaththab)

Oleh karenanya belajar bab jual beli, muamalah, dan perdagangan serta akhlak didalam berdagang perlu dipahami dan direnungkan sebelum terjun ke dunia perdagangan atau wirausaha dikarenakan kemaslahatan yang besar bagi yang memahami dan mempraktikannya dalam dunia perdagangan.

Di antara akhlak pedagang yang perlu dijaga ialah :

Jagalah Kejujuran

Jujur adalah mata uang yang berharga dan berlaku dimana-mana. Begitulah menurut kata bijak yang sering kita dengar. Kejujuran didalam berdagang akan memberikan keberkahan kepada penjual dan pembeli. Kejujuran adalah akhlak para nabi dan rasul. Semoga kita dimudahkan untuk senantiasa jujur.

“Penjual dan pembeli boleh meneruskan/memutuskan transaksi selama belum berpisah. Jika keduanya jujur, keduanya akan diberkahi. Namun, jika keduanya berdusta dan saling tertutup., hilanglah berkah jual beli keduanya.” (Muttafaq “alaihi).

Bersikap terbuka dan toleransi

Sikap keterbukaan dan toleransi didalam perdagangan adalah sikap yang penuh dengan rahmat dan kasih sayang dari Allah. Semoga kita bisa meraihnya.
“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang bersikap penuh toleransi ketika menual, membeli, dan menagih hutang.” (HR. Bukhari)

Janganlah menipu dan bersikap curang.

Menipu didalam perdagangan akan merugikan konsumen dan mampu menghilangkan tingkat kepercayaan konsumen kepada penjual. Semoga Allah jauhkan dari sifat ini.

“Barangsiapa yang menipu bukanlah golongan kami. Makar dan tipuan tempatnya adalah neraka.” (HR. Thabrani)

Seringlah memberikan saran dan informasi

Sikap terbaik bagi penjual ialah memberi tahu kepada pembeli atau konsumen tentang kelebihan dan kekurangan atau cacat barang yang akan dibelinya. Berikanlah saran dan informasi kepada pembeli untuk memudahkan didalam memilih barang yang akan dibelinya. Dan janganlah pelit informasi dan menyembunyikan kecacatan barang supaya laku keras.

“Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya. Tidak halal bagi seorang muslim menjual barang yang mengandung cacat kepada orang lain, kecuali jika ia menjelaskan.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah)

Jangan mengurangi takaran

Marilah kita renungkan sejenak betapa keuntungan yang tidak seberapa dan kita berlaku curang itu tidak sebanding dengan beratnya hukuman yang kita terima di akhirat kelak. Oleh karenanya takarlah sesuai takaran, dan takarlah dengan baik serta janganlah mengurangi takaran.

“Celaka bagi orang-orang yang mengurangi takaran.” (QS. Al-Muthaffifin : 1)

Janganlah menimbun

Rasa senang ketika menimbun barang itu laksana berdiri diatas penderitaan orang lain dan ia memanfaatkan rasa butuh orang lain atas barang tersebut dan mereka melepas barang yang ia tinbun dengan harga tinggi. Semoga Allah lindungi kita dari praktik seperti ini.

“Barangsiapa menimbun, maka ia berdosa.” (HR. Muslim)

Jauhi sumpah bohong

Menebar sumpah yang sebenarnya dusta kepada pembeli untuk meyakinkan pembeli agar segera membeli adalah perbuatan yang tidak terpuji dan akan menghilangkan berkahnya didalam berdagang.

“Sumpah dusta itu melariskan barang dagangan, namun menghilangkan berkah usaha.” (Muttafaq ‘Alaihi)

Janganlah mendekati riba

Teriring doa, semoga keluarga kita dijauhkan oleh Allah dari riba baik dalam praktiknya maupun debu ribanya. Riba itu dosanya lebih berat dari pada 36 kali berzina dan bisa menghilangkan indahnya keberkahan.

“Satu dirham hasil riba yang dimakan seseorang, padahal ia tahu lebih berat dosanya dari pada 36 kali berzina.” (HR. Ahmad)

Menjauhkan diri keluarga kita dari harta haram

Teriring doa, semoga keluarga kita dijauhkan dari harta yang haram, dimudahkan dalam menjemput harta yang halal, dan dimudahkan didalam menginfakkan harta yang halal tersebut serta senantiasa diliputi oleh keberkahan dari harta yang halal.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, beliau berkata,

“Mata pencaharian yang halal lebih sulit dari pada memindah gunung.”

Selamat berdagang (*).

sumber : Positifnews.id

Yogyakarta, 6 Maret 2016

Oky Suryana adalah nama asli dari seorang santri, aktivis, mahasiswa dan pengajar tahsinul Qur’an di sebuah SD Islam terpadu di daerah Yogyakarta, serta pegiat literasi yang aktif di Komunitas Bisa Menulis serta penulis buku Jejak-jejak Hati Meraih Ridha Illahi, Inspirasi Kajian dan Perjalanan Inspirasi dari Timur Indonesia. Penulis bisa dihubungi melalui akun facebook bernama Oky Suryana.

KOMENTAR