Kesejahteraan Masyarakat Desa dan Kota Masih Jauh.

Kamis, 06 April 2017 11:50:00 716
Kesejahteraan Masyarakat Desa dan Kota Masih Jauh.
Salah satu sudut desa di Provinsi Riau
Jakarta, Inforiau.co - Besarnya Anggaran Dana Desa yang diterima oleh pemerintahan desa beberapa tahun belakangan ini belum mengurang jarak antara kesejahteraan masyarakat desa dan masyarakat perkotaan. Hal itu disinyalir karena pola pengunaan dana, serapan anggaran dan juga jumlah anggaran yang belum sesuai dengan harapa. 
 
Hal itu diungkapkan oleh Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo Secara spesifik, Mardiasmo menyorot  ketimpangan yang terjadi di antara masyarakat daerah dengan masyarakat perkotaan,  padahal dana desa yang dialokasikan dari APBN jumlahnya terus meningkat setiap tahun.
 
“ Awalnya, Transfer ke daerah masih sekitar Rp300 triliun, tapi tahun ini sudah Rp765 triliun. Dari jumlah yang banyak tersebut, hasilnya tidak sejalan, tidak nendang. Warga masih gigit jari,” kata Mardiasmo di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (4/3/2017).
 
Dikatakan oleh Mardiasmo, besaran dana desa tersebut tidak akan berhenti pada kisaran Rp765 triliun saja. Pemerintah telah berniat untuk meningkatkan dana desa agar berada di kisaran Rp900 triliun. “Akan tetapi, tetap masih saja ada ketimpangan, kesenjangan, dan gini rasio 0,41,” ujar Mardiasmo.
 
Oleh karena itu, Mardiasmo mengungkapkan, pemerintah masih memiliki segudang pekerjaan rumah untuk diselesaikan. Lantaran itu ia mengimbau adanya sinergi yang baik antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, sehingga dana desa dapat digunakan seefektif mungkin. “Perlu inline antara APBN dan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah). Selain itu, dibutuhkan juga sinergi fiskal, moneter, jasa keuangan, dan pelaku usaha,” ucap Mardiasmo.
 
Sementara itu, masih dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta menyampaikan kualitas SDM Indonesia yang ternyata lebih rendah dibandingkan Malaysia dan Turki. Pernyataan Arif tersebut berdasarkan laporan terbaru dari United Nations Development Programme yang dirilis Maret lalu.
 
“Indonesia ada di ranking 113 dengan skor 0,689. Padahal Malaysia ada di peringkat 59 dengan skor 0,789, sementara Turki di peringkat 71 dengan skor 0,767,” ucap Arif.
 
Lebih lanjut, Arif mengatakan pembangunan manusia yang berkualitas sebenarnya dapat mendorong tumbuhnya perekonomian Indonesia ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu, fokus dari Presiden Joko Widodo untuk melakukan pemerataan di berbagai daerah dinilai sudah tepat. “Pemerataan berimplikasi pada pembangunan manusia. Yang mana pada akhirnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Arif. ***
 
 

KOMENTAR