Memantik Melayu Spring dari Riau

Selasa, 11 Desember 2018 17:19:34 397
Memantik Melayu Spring dari Riau
Alwira Fanzary Indragiri


Mohamed Bouazizi. Pemuda Tunisia, pertengahan bulan Desember 8 tahun yang lalu membakar tubuhnya. Frustasi dalam bentuk perlawanan kepada rezim dengan cara yang tak wajar ini pun mengakhiri hidup penjual buah ini. Tragis.

Namun siapa menduga, tak lama setelah tubuh Bouazizi berkalang tanah, menjadi awal menyeruaknya kesadaran kolektif masyarakat ada yang harus disuarakan, bahkan lebih dari itu. Dan secara bersama. Terutama tentang ketidakadilan, korupsi dan ekonomi yang memburuk. Tidak tanggung-tanggung, ada 4 kepala negara di tanah Arab yang berkuasa puluhan tahun terguling usai demonstrasi dan kerusuhan. Yang disebut-sebut buah dari pengorbanan Bouazizi. Disengaja? Tentu tidak. Namun jadi pemantik, jelas iya.

Sebagian orang berpendapat apa yang terjadi di Arab sewindu yang lalu itu bukan lah musim semi, tapi musim gugur. Sebab tanah Arab hingga saat ini masih juga labil. Namun kalau mau mengutip kata bijak negeri seberang" Perjalanan Satu Mil, Dimulai dari Satu Langkah", maka tidak ada yang menguap dari apa yang dibuat dan diucap. Bukankah tuhan hanya menilai dari proses, bukan dari hasil yang didapat.

Di Tanah Melayu, yang meliputi beberapa negara, tumbangnya Najib Razak oleh Mahathir Mohamad disebut-sebut akan menjadi mula dari Melayu Spring. Dan diprediksi akan menular ke Indonesia, boleh lah dibuktikan tahun depan. Lalu pertanyaannya, akan kah dengan itu kemudian menjalarkan kemakmuran bagi masyarakat Riau yang buminya melimpah ruah kekayaannya?.

Saya sendiri masih saja pesimis tanah Riau ini akan mengalami perubahan yang berarti tanpa ada perlawanan yang radikal. Sikap tamak, bingal dan bebal Jakarta pada Bumi Melayu Lancang Kuning ini sudah berurat-akar. Ditambah lagi, tidak sedikit elit daerah ini tak lebih hanya kacung nya Jakarta. Marah disebut kacung?Merajuk?.

Sebab itulah saya membayangkan tetiba ada seorang anak muda, atau mungkin tak lagi muda seorang diri menyuarakan ketimpangan dan penzaliman kepada tanah Melayu Riau ini dengan cara yang gila?. Seperti Bouazizi. Bisa saja.

Berangkat dari sebuah kesadaran, bahwa perut bumi tempat ia berpijak berpuluh tahun terus dikuras tanpa ampun, yang mendapat madu hanya segelintir. Yang lain? Dadanya sesak menghirup udara dari cerobong asap pabrik-pabrik ketamakan, sungai-sungai nya pekat mengalirkan anyir kerakusan. Tak lagi berhitung hari.

Lahan-lahan nenek moyangnya di kaveling-kaveling penguasa daerah dan Istana. Bahkan apa yang tumbuh dari atas tanahnya hasil peluh pun tak lagi berharga. Harga sawit, karet, kelapa menukik setajam-tajamnya. Pemimpinnya pun mengumban beribu alasan.

Di saat dihimpit kesulitan yang tak kunjung ada solusi nyata dari pengemban amanah, eh malah si nyonya dari berkeley mewacanakan kenaikan tunjangan kepala daerah. Tentulah kepala daerah girang. Belum cukup uang sikut?uang sikat?uang sipuk?. Ini sama saja dengan pemimpin bersulang darah rakyatnya sendiri.

Dan lebih menggelikannya lagi, penguasa tertinggi di negeri ini pun akan dimahkotakan sebagai pemimpin yang cerlang-cemerlang berseri bak gemintang. Masak iya?. Asli macam pulut.

Kembali saya membayangkan ada Bouazizi berhidung pesek akhir pekan ini, ya akhir pekan ini, melakukan ekspresi kekecewaan yang gila, seperti yang terjadi di Tunisia 8 tahun lalu, jika tidak sama, setidaknya mendekati. Di pusat ibu kota provinsi, jalan Sudirman, atau jalan Gajah Mada, atau lebih mantap lagi di jalan Diponegoro. Meski saya ragu, tapi apa yang mustahil di bumi yang masih bulat ini?.

Oleh : Alwira Fanzary Indragiri

- Ketua OKP Lingkar Anak Negeri Riau (LAN-R)

- Jurnalis

KOMENTAR