Momen Hari Santri, Saidul Tombang Teringat 5 Kenangan Indah Saat Mondok Dulunya

Senin, 22 Oktober 2018 20:00:05 315
Momen Hari Santri, Saidul Tombang Teringat 5 Kenangan Indah Saat Mondok Dulunya
Saidul Tombang saat menyambangi salah satu pesantren di Negara Vietnam beberapa waktu lalu

Pekanbaru, Inforiau.co - Tanggal 22 Oktober 2018 ini bertepatan dengan Hari Santri Nasional. Ini adalah Hari Santri ke-4, dan ada semasa Jokowi memimpin Indonesia. Tentu, masing-masing kita - terutama sebagai santri dan pernah menjadi santri - memiliki kenangan semasa nyantri alias mondok.

Tak terkecuali Saidul Tombang, salah seorang jurnalis senior Riau. Dia yang pernah mengenyam pendidikan pesantren di Pondok Pesantren Islamic Centre AL Hidayah Kampar, dari tahun 1987 hingga 1994. Pondok asuhan almarhum Abuya KH Bakhtiar Daud.

Saidul menyebut pada Hari Santri ini, dia teringat akan 5 momen indah dan menyenangkan selama mondok tersebut. 5 kenangan ini selalu mengingatkan dia untuk kembali larut akan indahnya masa itu.

"Saya memiliki 5 kenangan indah selama mondok di Islamic Centre. Ke-5 nya akan terus saya kenang"kata Saidul saat berbincang santai pada Senin (22/10/2018) sore.

Kenangan pertama menurutnya adalah dia dikenal sebagai santri yang kecil badannya. Sering dipanggil unyil oleh kawan dan seniornya.

"Saya dipanggil unyil saat itu, karena badan saya kecil dankurus. Badan saya baru tumbuh pada kelas 3 pesantren"terangnya.

Kenangan kedua menurutnya adalah dia hampir pernah membakar asrama. Ceritnya, katanya, saat itu dia baru habis dikhitan, sedangkan kehidupan pondok itu semua serba dikerjakan sendiri dengan kompor minyak. Karena kondisinya masih sekarat pasca dikhitan dan tetap harus tetap masak, maka saat memasak tersebut dia hampir membakar asrama.

Kenangan ketiga yang tak terlupakan menurutnya adalah suatu saat kerah bajunya ditarik oleh (alm) Abuya karena mengunyah permen karet saat belajar.

"Tapi tak apalah, karena yang lain pernah juga ditampar. Hehehe... karena sikap tegas abuya dan guru itulah santrinya jadi 'orang',"terangnya.

Kenangan keempat, menurutnya adalah pernah lihat orang tertidur sambil sholat.

"Di masa kami banyak kejadian, begitu i'tidal di rokaat kedua, ada saja yang tak ikut sujud sampai orang salam. Rupanya dia menyandar ke dinding masjid dan tertidur tegak. Saya tak pernah. Kalau saya, paling-paling malas mandi pagi."tambah santri yang juga alumni IAIN SUSQA (sekarang UIN Suska) Pekanbaru ini.

Kelima, katanya, dia adalah penulis surat cinta langganan para santri/santriwati lainnya. Banyak di antara santri yang minta buatkan sama dia surat cinta kepada santriwati.

"Celakanya, si santriwati yang 'ditembak' juga minta dibuatkan balasan surat cinta yang saya buat. Hehehe... masa-masa itu, mendapat sepucuk surat cinta seperti mendapat gunung emas. Senangnya bukan main. Hubungan cinta-cintaan memang hanya dilakukan melalui sepucuk surat."tutupnya

Bagi Saidul, sisi lain kehidupan santri adalah kenakalan yang asyik. Kenangan yang layak disenyumi sepanjang masa! Kehidupan yang bersarung, berkopiah, bersorban, selalu ikut muhadhoroh, sering mudzakarah, tiap hari belajar kitab gundul tinggal di asrama, hidup prihatin, bangun jauh sebelum subuh, tidur jelang tengah malam, dan sedikit nakal. Menjadi bekal diri di kehidupan nyata saat ini. mt

KOMENTAR