Suara Lelo Datuok Rajo Koto Menggema

Rabu, 10 Februari 2016 22:14:45 4710
 Suara Lelo Datuok Rajo Koto Menggema
Bangkinang, inforiau.co - Warga Kampar dibuat heboh seiring terdengarnya suara lelo (sejenis meriam terbuat dari bambu) Datuok Rajo Koto, bagi masyarakat di "Serambi Mekkah" suara itu pertanda akan datangnya banjir besar.
 
Suara letusan lelo tersebut didengar oleh sebagian amsyarakat di Kabupaten Kampar pada Selasa (9/2) sekitar pukul 11:40 Wib. Terlepas dari percaya atau tidak atau ini sebuah mitos, saat ini sebagian besar wilayah Kampar sudah terendam banjir.
 
"Ya baru saja kami mendengar letusan kuat, menyerupai meriam yang menggema, bahkan diakui terdengar oleh seluruh warga di Kabupaten Kampar," ujar Ali Lizar salah seorang warga Desa Koto Perambahan Kecamatan Kampar Timur
 
Menurut sejumlah sejarah letusan Lelo Datuk Koto, bisa terdengar di seluruh wilayah kabupaten Kampar. 
 
"Dari cerita tetua kami Lelo Datuk Koto pernah terdengar pada Tahun 1960 dan terakhir di dengar 1978, dan ini terdengar lagi di tahun 2016. Jujur warga mulai ketakutan, ditambah dengan kondisi banjir yang begitu cepat meluap," ujarnya
 
"Den manengok dengan mato kapalo sendiyi ayu manggalombuk kate di sungai kampau ado satinggi atok uma manggalombuong ayu kate," ujar Ali yang keseharian disapa dengan sijek.
 
Di sampaikan Ali, hingga saat ini meskipun secara ilmiah belum bisa dibuktikan secara akurat, namun tidak ada warga yang tau dimana asal bunyi letusan itu. Tetapi warga Kabupaten Kampar mempercayai hal itu sebuah pertanda alam, dan meminta masyarakat kabupaten Kampar untuk waspada.
 
Versi lain, warga sekitar bunyi tersebut berasal dari 'pulau tongah', dan bunyi itu diyakini warga adalah bunyi 'lelo' rajo datuok koto. Mistisnya, suara tersebut adalah penanda kabar bakal terjadinya banjir besar di aliran sungai Kampar.
 
Banyak warga mengaku suara ledakan kuat ini baru pertama kali didengar sejak 40 tahun terakhir, dan adalagi yg mengatakan suara dentuman yg sama pernah terdengar pada tahun 1978. Percaya?
 

Jalan Pekanbaru-Kampar macet parah

Arus lalu lintas di Jalan menghubungkan Kota Pekanbaru ke Kota Bangkinang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau macet parah akibat banjir menggenangi badan jalan, Selasa siang.
 
Kemacetan mulai terjadi di daerah Kecamatan Rumbio Jaya karena ketinggian air di badan jalan mencapai sekitar 60-80 centimeter. Kendaraan dari arah Pekanbaru menuju Bangkinang, dan begitu juga arah sebaliknya, tertahan karena banyak mobil jenis sedan tidak bisa melintas dan para pengendara terpaksa balik arah. 
 
"Banjir dari luapan air sungai sudah naik memenuhi badan jalan. Mobil kecil banyak yang memutar, hanya mobil dengan roda besar dan truk yang berani terus jalan," kata seorang warga, Rony Muharrman.
 
Ia mengatakan, pada Selasa siang belum ada tanda-tanda air akan surut, sedangkan antrean kendaraan di kemacetan diperkirakan sudah lebih dari dua kilometer.
 
Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sudah mewanti-wanti akan adanya banjir di Kabupaten Kampar yang berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat. Sebabnya, pintu waduk di Pembangkit Listrik Tenaga Air Koto Panjang Kabupaten Kampar telah dibuka pada Senin (8/2), karena besarnya debit air yang masuk dalam waduk. 
 
"Kondisi ini perlu diantisipasi adanya banjir kiriman di Kabupaten Kampar, Riau. Tinggi muka air Sungai Kampar telah naik 60-120 centimeter," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho.
 
Hujan deras yang merata di Sumatera Barat dan sebagian Barat wilayah Riau telah menyebabkan bencana banjir dan longsor. Sungai Rokan, Sungai Muara Bandar, Sungai Palis, dan Sungai Batang Lubuh meluap sehingga menyebabkan banjir meluas Kecamatan Rokan IV Koto, Kecamatan Pagaran Tapah Darussalam, dan Kecamatan Rambah.
 
Kepala Dusun Desa Salo Timur, Hermanto mengatakan, banjir di Kampar ini merupakan yang terparah pernah terjadi. Banjir ini akibat tingginya curah hujan dan membuat debit air di PLTA Koto Panjang melimpah.
 
"Lima pintu PLTA dibuka tentu membuat air yang turun itu deras, dan banjirpun tak terelakkan. Ini banjir lebih besar dari sebelumnya," tutur Hermanto.
 
Madi (36) salah seorang masyarakat Desa Salo, sejak tadi malam wilayahnya Desa Salo sudah direndam banjir. Namun, hingga siang ketinggian air meningkat, dan membuat masyarakat setempat memilih untuk mengungsi kerumah saudara yang lebih aman.
 
"Sebagian besar warga sudah mengungsi, air terus meninggi. Kita khawatir ketinggian air terus bertambah, karena belum ada tanda-tanda akan surut," tandasnya.
 
Nasib nahas dialami Marzuki (50) warga Desa Ranah, hanyut saat banjir besar melanda desa tersebut. Pria yang sehari-hari yang bekerja sebagai petani ikan keramba ini setelah gagal menyelamatkan diri dari terjangan banjir besar 
 
"Dia awalnya mau memperbaiki kerambanya karena takut terseret air. Namun nahas menimpanya, Marzuki terkelincir saat memperbaiki tali tersebut, yang akhirnya merenggut nyawanya," ungkap warga Desa Ranah, Zulhendri.
 

Jalan Lintas Pekanbaru-Bangkinang seperti Laut

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman tinjau banjir di Kampar, tepatnya Kampung Godang Kecamatan Seberang Bangkinang, Selasa (9/2). 
 
Dalam perjalanan menjelang ke lokasi, tampak terlihat rumah-rumah warga, sawah, jalan raya terendam air akibat luapan air Sungai Kampar dan dibukanya lima pintu tanggul air di Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Kampar. 
 
Sejumlah titik Jalan Raya Pekanbaru-Bangkinang banyak terendam. Saking luasnya luapan air, jalan raya pun tampak seperti lautan. 
 
Sejumlah titik jalan raya Pekanbaru-Bangkinang yang terendam tepatnya di Air Tiris. Selain itu, tampak juga rumah-rumah warga yang juga terendam. Banyak warga yang terpaksa mengungsikan harta bendanya ke pinggir jalan raya hingga memakan badan jalan. 
 
Selain memindahkan harta benda ke pinggir jalan raya, tak sedikit juga yang terpaksa mengangkut harta benda ke tampat lebih tinggi. Mereka beralasan takut jika luapan air semakin meninggi. 
 
"Kami khawatir kalau air makin meninggi, makanya kami pindahkan ke tempat lebih tinggi," kata Yuniar warga Air Tiris yang rumahnya terendam air dalam dua hari terakhir. 
 
Sementara setibanya di Kampung Godang, Seberang Bangkinang Plt Gubri sempat berdialog dengan tokoh dan warga tempatan. Kemudian Plt Gubri yang didampingi Bupati Iampar Jefri Noer juga memberikan bantuan berupa sembako melalui perwakilan warga yang tinggal di posko pengungsian yang telah disiapkan pemerintah setempat.
 

Bupati Pimpin Langsung Penyaluran Bantuan

Upaya tanggap darurat banjir yang melanda Kabupaten Kampar, Bupati Kampar H Jefry Noer memimpin langsung penyaluran bantuan dan pelaksanaan evakuasi warga, Selasa (9/2). 
 
?Bupati Kampar memantau langsung ke lapangan tentang kondisi masyarakat di berbagai Desa dan Kecamatan. Peninjauan dilakukan oleh Bupati tidak hanya menggunakan mobil saja, bahkan juga mengendarai sendiri sepedamotor untuk mengecek langsung kondisi warga di lokasi banjir.? 
 
Untuk memudahkan proses evakuasi, Selasa (9/2/16), Pemkab Kampar berkoordinasi dengan Basarnas Pekanbaru, jajaran Kodim 0313/KPR, Polres Kampar. Langkah tahap awal yang dilakukan antara lain membantu evakuasi warga dan di bawa ke tempat-tempat pemukiman yang lebih tinggi, serta ke Posko Induk yang didirikan di Lapangan Merdeka. Dapur Lapangan juga tersedia.
 
Setelah memastikan proses evakuasi berjalan sebagaimana mestinya, Bupati kemudian menghimpun secara spontan bantuan dari Dinas/Instansi serta Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Kabupaten Kampar untuk menyediakan makan siang masyarakat korban banjir. 
 
Bahkan bantuan tersebut dikoordinir langsung oleh Bupati untuk memastikan bahwa bantuan yang diberikan benar-benar diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan.? 
 
Ribuan nasi bungkus untuk makan siang warga didistribusikan kepada desa-desa. Bupati menghubungi para Kepala desa untuk mengetahui kondisi masyarakat dan memastikan berapa pasokan yang dibutuhkan. 
 
“Saya harus monitor terus, agar bantuan ini tepat sasaran,’’ucapnya.
 
Bupati mengatakan bahwa jika bergantung pada dana bantuan bencana alam saja, dengan kondisi saat ini tentu tidak memungkinkan. 
 
Sehingga Bupati memutuskan untuk menggalang bantuan dari dinas/instansi. Selain menyerahkan bantuan berupa kebutuhan makan siang, Bupati Kampar juga mengintruksikan Dinas terkait untuk mempersiapkan bantuan sembako bagi masyarakat.? 
 
Bantuan makanan siap saji merupakan bantuan awal karena kondisi masyarakat yang tidak memungkinkan untuk memasak karena sebagian besar rumah terendam. 
 
“Sebagian besar sudah didistribusikan, ada posko-posko darurat didirikan di desa-desa untuk dapur umum. Selain itu, ada juga pendistribusian nasi bungkus untuk makan siang. Intinya saat ini focus pada tanggap darurat,’’tegas Jefry Noer disela kesibukannya memantau penyaluran bantuan di Posko Induk Lapangan Merdeka Bangkinang Kota.
 
Bupati juga sempat mengungkapkan kekhawatirannya terhadap sejumlah Desa di Kampar Utara yang kemarin siang belum tersentuh bantuan, karena kuatnya arus banjir yang rawan untuk dilewati. Namun, setelah berkoordinasi dengan sejumlah Kepala Desa, secara bertahap, bantuan pun dapat dikirimkan.
 

Tiga Jembatan Ambruk

Tiga jembatan di Kelurahan Kota Lama, Kecamatan Kunto Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) dilaporkan ambruk diterjang banjir.
 
Camat Kunto Darussalam, Herdianto SSTp, mengatakan tiga jembatan di jalan kabupaten yang ambruk yakni jembatan Sungai Pisang Kolek, jembatan Bukit Juragan, dan jembatan Omang. Ketiganya ambruk akibat meluapnya sungai Rokan dan sungai kecil sekitar.
 
Ia memperkirakan ketiga jembatan ini ambruk pada Senin (8/2) tengah malam tadi. Namun baru diketahui masyarakat pada Selasa (9/2) subuh.
 
"Korban jiwa tak ada, sebab kejadiannya tengah malam (Senin). Sebelumnya juga sudah kita pantau, dan kita imbau masyarakat agar tak lewat jika air sudah sampai jembatan," ujar Herdianto kepada riauterkini.com, Selasa.
 
Dampak ambruknya tiga jembatan ini, ungkap Herdianto, sekira 300 kepala keluarga di Dusun Pelantuk Kelurahan Kota Lama terisolir. "Kalau untuk masyarakat (Desa) Muara Dilam masih ada jalan alternatif ke Kota Lama (Kelurahan)," ungkapnya.
 
Selain tak bisa menyebrang ke Kota Lama, sambung Herdianto, 300 rumah masyarakat Dusun Pelanduk juga terendam banjir. Masyarakat sudah mengungsi ke tempat aman.
 
"Masyarakat Pelanduk masih tetap bertahan disana. Namun mereka sudah mengungsi ke tempat tinggi," jelasnya.
 
Mantan Camat Pagarantapah Darussalam ini mengakui sudah melaporkan secara lisan ambruknya tiga jembatan di Kelurahan Kota Lama tersebut ke dinas terkait.
 
"Surat sudah kita buat dan segera kita laporkan ke dinas terkait, seperti Dinas Bina Marga dan Pengairan, serta Dinas Sosial," tandas Herdianto.
 

Banjir Kuansing Kepung 5 Kecamatan

Guyuran hujan deras sejak tiga hari belakangan ini membuat sungai Kuantan, Kabupaten Kuansing kembali meluap dan banjiri ribuan rumah warga sejak Senin kemarin, hingga Selasa (9/2) pagi, korban banjir mulai mengungsi.
 
Dari data yang diterima Kabid Humas Polda Riau, AKBP Guntur Aryo Tejo, hingga Rabu (9/2/2016) pagi, sudah 5 kecamatan di Kuansing yang terendam banjir.
 
Sebanyak 554 Kepala Keluarga (KK) butuh pertolongan segera dan perlu dievakuasi. Berikut rincian data korban banjir yang berhasil dihimpun petugas Humas Polres Kuansing:
 
Saat ini bagi warga yang mengalami kebanjiran masih bertahan di rumahnya masing-masing. Sebagian berusaha mengungsi ke rumah yang berlantai dua. Iin/Grc/Rtc/Ir

KOMENTAR