Warga Tak Terima Perlakuan Kasar Kepala KUA Tambang

Rabu, 28 Agustus 2019 10:47:01 697
Warga Tak Terima Perlakuan Kasar Kepala KUA Tambang

Tambang, Inforiau.co - Fungsi dari seorang Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) mestinya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Bukan malah memberi pelayanan dalam bentuk penjelasan atau solusi yang tak santun ketika ada warga berkonsultasi.

Tetapi hal itu tidak didapatkan oleh Muliati (43) seorang warga Desa Sungai Pinang ketika berkonsultasi masalah pernikahan ke KUA Tambang, Kabupaten Kampar.

Menurut Muliati, dirinya dibentak-bentak dan diperlakukan tidak patut oleh Kepala KUA Tambang, Damilus. Kejadian ini bermula ketika Muliati pada pukul 9.00 WIB, Selasa (27/8/2019) kemarin, mendatangi Kantor KUA Tambang untuk berkonsultasi pernikahan anak kakaknya.

Di kantor KUA tersebut kata Muliati hanya ada Kepala KUA Damilus. Sehingga dirinya lamgsung menuju ruangan Kepala KUA tersebut. Setelah minta izin masuk dan mengucapkan salam, Muliati langsung menyampaikan masalah yang ingin dia konsultasikan.

Namun, dari awal, kata Muliati, Kepala KUA Tambang Damilus terkesan cuek seolah tidak mengharapkan kedatangan tamu.

"Waktu itu Pak KUA masih sibuk dengan hanphone-nya," ujar Muliati dengan muka sedih.

Meski demikian, Muliati terus mengutarakan masalah yang ingin dia konsultasikan. Kepada Damilus, Muliati menjelaskan bahwa anak kakaknya, dua tahun lalu sudah melangsungkan pernikahan yang tidak direstui oleh orang tuanya. Pernikahan tersebut tidak tercatat di KUA alias nikah siri atau nikah di bawah tangan. Namun saat ini, orang tuanya sudah setuju dan merestui hubungan anaknya. Oleh sebab itu, kata Muliati, pasangan tersebut ingin nikah secara resmi di KUA Tambang.

Mendengar masalah yang diutarakan Muliati, Kepala KUA Tambang mengatakan dengan ketus dan mengeluarkan istilah istbath ke pengadilan. Muliati yang tidak paham istilah itu, lalu mengatakan bahwa sebelumnya dia pernah berkonsultasi ke staf KUA Tambang yang bernama Rudi bahwa tidak pakai istbath. "Kalau pun ada istbath, apa syarat dan bagaimana caranya," ujar Muliati.

Mendengar itu, Damilus justru semakin ketus dan emosi. Dan mengatakan tak perlu bawa-bawa nama stafnya ketika berkonsultasi ke dia. "Yang kepala Kantor KUA itu saya, bukan Rudi. Kok ibu sebut Rudi-Rudi terus. Saya sudah kasi jalan kok ibu tak bisa mengerti," ujar Damilus dengan nada keras ke Muliati.

Muliati mengaku tersulut emosi melihat sikap Kepala KUA yang tidak sesuai harapannya itu. Namun karena dia berhadapan dengan pejabat yang suatu saat akan berurusan soal pernikahan, dia berusaha untuk meredam emosinya. Dia keluar dari rungan KUA Tambang dengan sedih. Dan tak habis pikir mengapa seorang pejabat tidak melayani masyarakat dengan baik.

"Padahal saya sedang berpakaian dinas ASN. Sesama ASN aja begitu, apalagi dengan masyarakat biasa. Lagi pula saya ini perempuan, tak pantas dikasari seperti itu," ujar Muliati yang juga seorang guru di SMA I Tambang.

Kepada wartawan Damilus mengakui bahwa terjadi dialog yang agak panas antara dia dengan ibu Muliati. Hal itu terjadi lantaran ibu Muliati sering menyebut nama stafnya Rudi. "Saya tidak ada niat untuk mengasarinya. Suara saya memang keras. Ibu Muliati sering menyebut nama Rudi staf saya karena dia pernah berkonsultasi dengan Rudi. Saya katakan yang KUA itu saya bukan Rudi," ujar Damilus.

Damilus mengatakan bahwa dia merasa sudah memberikan pelayanan dengan baik dan menjawab pertanyaan dengan sesuai ketentuan. Tapi Muliati terkesan mendesak-desak dirinya. Hen

KOMENTAR